biar saja ku tak sehebat matahari
tapi slalu kucoba 'tuk menghangatkanmu
biar saja ku tak setegar batu karang
tapi slalu kucoba 'tuk melindungimu
biar saja ku tak seharum bunga mawar
tapi slalu kucoba 'tuk mengharumkanmu
biar saja ku tak seelok langit sore
tapi slalu kucoba 'tuk mengindahkanmu
merah putih teruslah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi
di Indonesiaku ini..
[cokelat]
Yahh..luar biasa! ternyata di tanggal 17 Agustus 2007 ini, aku merasa cukup bermakna.
[] bintang atau kabut?
Friday, 17 August 2007
Sedih
Engga tau, hari ini aku sedang sangat sedih. Rasa-rasanya segala hal yang melintas di hatiku, sangat berpotensi membuatku sedih. Pokoknya sedih. Dan walaupun beberapa butir air surga sudah menggantung di mataku, tapi berdasarkan pengalaman, kalo aku nangis dikit aja, efeknya akan sangat terlihat. Mata bengkak. Padahal sangat engga mungkin bagi aku untuk engga ketemu dengan siapapun barang beberapa menit. Jadi daripada muncul pertanyaan-pertanyaan yang males banget aku jawab, lebih baek aku menahannya aja. Biar kusimpan sedih itu. Terus, sebenernya point hidup apa yang bikin aku sedih? Pertama, aku kecewa dengan orang yang aku pernah begitu memujanya. Iya, aku tau persis. Banyak berharap = banyak kecewa. Tapi aku tetap manusia, yang engga bisa hidup barang sedetikpun tanpa harapan. Yahh, satu habits dia yang membuatku meradang. Sakit. Perih. Lalu, aku juga sedih karena merasa belum prepare sedemikian rupa untuk dua hajat besarku. Masih ada waktu, sebenernya, tapi seakan ada duri2 kecil, yang bikin aku ga leluasa untuk melakukan persiapan itu. Kemudian, pressure itu. Pergolakan batin atas beberapa hal yang membuat nafasku, dari hari ke hari, ga bisa lega. Padahal udah makan permen mint. Halah! Lalu, my memoriez. Temenku pernah bilang, kalo bisa dan boleh, dia pengen banged bisa mendelete memori-memori masa lalunya. Agar setapak langkah yang diayun, mantap. Engga ada bayang2 yang bikin kita lemah. Dan aku sedang ingin seperti itu. Tuh ‘kan..jadi sedih lagi..
[] Bogor, i'm coming!
[] Bogor, i'm coming!
Here There Everywhere
Aku menulis di blog-ku, juga di friendster-ku, bahwa musik/lagu favoritku adalah Here, There, and Everywhere. Tapi bukan yang versi The Beatles lho ya, melainkan yang Neri Per Caso, coz aku merasa lebih cocok aja ma improvisasi nadanya. Lalu, knapa aku suka lagu itu?
Here, there, everywhere. Potongan syair awalnya, lebih kurang seperti ini : “To make a better live, i need my love to be here..” Aku setuju banged. Guru Sosiologi di SMU-ku dulu, bilang kalo manusia adalah makhluk sosial. Ia engga bisa hidup tanpa manusia laen. Kalo agamaku mengajarkan; ukhuwah (persaudaraan) is the real power of moslem. Iya, manusia mana yang bisa hidup sendiri. Tanpa teman yang menemani, sahabat yang membersamai, keluarga yang mensupport, dan cerita-cerita hidup yang mewarnai.
Tapi aku bukanlah manusia yang terlalu mengagungkan makna fisik. Aku pernah bilang ke temenku, “Kehilangan hanyalah label dari sebuah produk. Dan produk itu berisi cinta sejati.”
Jadi, meskipun aku suka banget dengan Here, There, Everywhere, walaupun aku adalah alumnus Sosiologi UGM, biarpun aku adalah manusia yang notabene adalah makhluk sosial, tapi aku percaya, dan terus belajar, bahwa sebenernya manusia lahir sendiri. Dan mati juga sendiri.
[] never ending!
Here, there, everywhere. Potongan syair awalnya, lebih kurang seperti ini : “To make a better live, i need my love to be here..” Aku setuju banged. Guru Sosiologi di SMU-ku dulu, bilang kalo manusia adalah makhluk sosial. Ia engga bisa hidup tanpa manusia laen. Kalo agamaku mengajarkan; ukhuwah (persaudaraan) is the real power of moslem. Iya, manusia mana yang bisa hidup sendiri. Tanpa teman yang menemani, sahabat yang membersamai, keluarga yang mensupport, dan cerita-cerita hidup yang mewarnai.
Tapi aku bukanlah manusia yang terlalu mengagungkan makna fisik. Aku pernah bilang ke temenku, “Kehilangan hanyalah label dari sebuah produk. Dan produk itu berisi cinta sejati.”
Jadi, meskipun aku suka banget dengan Here, There, Everywhere, walaupun aku adalah alumnus Sosiologi UGM, biarpun aku adalah manusia yang notabene adalah makhluk sosial, tapi aku percaya, dan terus belajar, bahwa sebenernya manusia lahir sendiri. Dan mati juga sendiri.
[] never ending!
Wednesday, 15 August 2007
gutter papers
jadi, kegiatanku sehari-hari saat ini adalah menjadi kontributor berita daerah untuk radio suara banjarnegara 104,4 fm. yah secara struktural emang tuh radio ada dalam tim humas pemda banjarnegara. asik juga siy, aku jadi tau perkembangan banjarnegara-ku kini. yang terbaru, dinas kesehatan kerjasama dengan radio-ku, untuk ngadain lomba cipta lagu bebas flu burung. lumayan banyak juga pesertanya. dan rencana mo diterusin ke bu menteri kesehatan untuk bisa dapet hak cipta lagu, jadi sosialisasi lagu itu bisa lebih efektif.
aku juga sempet maen-maen ke perpustakaan daerah banjarnegara yang letaknya persis di sebelah radio sb. lumayanlah untuk ukuran kamung banjar. animo masyarakat dan minat baca mereka cukup meningkat. aku kemaren daftar jadi anggota di sana dan dapet nomor anggota 1421. sedikit mirip nomor hapeku. hehe. dan buku pertama yang aku pinjem adalah kumpulan esei esei bentara 2002. semalem baru baca dikit, coz aku mesti nemenin ibu tercintaku beli vitamin di apotek deket kauman. aku sempet baca satu dari 41 cerita di buku itu. tentang "gerilya melawan klise". yah dunia pemikiran indonesia, menurut si penulis, emang sempet (ato masih?) stagnant. terlalu banyak gutter papers. wajahnya genit, isinya gosip. kultus selebriti, dan sebangsanya. begitulah.
hmm..22 agustus hari jadi banjarnegara lho. ada yang hebat! 2oribu gelas es dawet ayu khas daerah-ku itu, akan dibagikan gratis pas hari-H, di alun-alun kota. denger2 malah sampe didaftarin ke museum rekor indonesia. lalu ayah ibuku juga bakal ikut gelar aparatur, alias awak pemda yang berkeliling kota untuk kirab. juga adekku semata wayang yang ntar sore minta ditemenin ke salon untuk cari baju riau buat karnaval. dan keluarga satu-satunya kakakku, juga nampak bahagia, dengan tambah pinternya buah hati mereka. semua orang sibuk ya?
sebenarnya hari-hari skarang aku juga lagi deg-degan menunggu sesuatu. ada dua hal -yang menurutku spesial- dan mungkin, akan berpengaruh besar ke perjalanan hidupku ke depan. doakan ya :)
oia, semalem temenku yang kerja di bisnis indonesia telpon, tanya nomor hp temenku di jogja yang katanya ga bisa dihubungi. dan pas aku cerita ayahku, ternyata mantan pemred
bisnis indonesia, yakni choiruddin al banjari, adalah orang banjarnegara, tepatnya daerah merden. dan temenku itu, malah bilang ke aku, "jangan lupa kirim undangan *******-nya ya.." haha?
chopin, kelinci temen baikku di tempat kkn-nya di pedalaman probolinggo sana, mati. katanya : "sepertinya aku engga pernah mencintai sesuatu dengan benar."
aku lagi dengerin marcel, firasat. aku kemaren sempet discuss ma kakakku, soal keputusan marcel dan dewi supernova, yang beragama hindu, dan segenap positioning rumah mereka yang beda ma manusia-manusia seprofesinya. dan aku masih tetap sepakad ma pakde gede prama, perjalanan manusia hanyalah perjalanan ke dalam dirinya sendiri.
"the only journey is the journey within."
Yayaya..manusia, terus berputar, beredar, menari setiap detik.
semua menuju-Nya.
[] how 'bout u?
aku juga sempet maen-maen ke perpustakaan daerah banjarnegara yang letaknya persis di sebelah radio sb. lumayanlah untuk ukuran kamung banjar. animo masyarakat dan minat baca mereka cukup meningkat. aku kemaren daftar jadi anggota di sana dan dapet nomor anggota 1421. sedikit mirip nomor hapeku. hehe. dan buku pertama yang aku pinjem adalah kumpulan esei esei bentara 2002. semalem baru baca dikit, coz aku mesti nemenin ibu tercintaku beli vitamin di apotek deket kauman. aku sempet baca satu dari 41 cerita di buku itu. tentang "gerilya melawan klise". yah dunia pemikiran indonesia, menurut si penulis, emang sempet (ato masih?) stagnant. terlalu banyak gutter papers. wajahnya genit, isinya gosip. kultus selebriti, dan sebangsanya. begitulah.
hmm..22 agustus hari jadi banjarnegara lho. ada yang hebat! 2oribu gelas es dawet ayu khas daerah-ku itu, akan dibagikan gratis pas hari-H, di alun-alun kota. denger2 malah sampe didaftarin ke museum rekor indonesia. lalu ayah ibuku juga bakal ikut gelar aparatur, alias awak pemda yang berkeliling kota untuk kirab. juga adekku semata wayang yang ntar sore minta ditemenin ke salon untuk cari baju riau buat karnaval. dan keluarga satu-satunya kakakku, juga nampak bahagia, dengan tambah pinternya buah hati mereka. semua orang sibuk ya?
sebenarnya hari-hari skarang aku juga lagi deg-degan menunggu sesuatu. ada dua hal -yang menurutku spesial- dan mungkin, akan berpengaruh besar ke perjalanan hidupku ke depan. doakan ya :)
oia, semalem temenku yang kerja di bisnis indonesia telpon, tanya nomor hp temenku di jogja yang katanya ga bisa dihubungi. dan pas aku cerita ayahku, ternyata mantan pemred
bisnis indonesia, yakni choiruddin al banjari, adalah orang banjarnegara, tepatnya daerah merden. dan temenku itu, malah bilang ke aku, "jangan lupa kirim undangan *******-nya ya.." haha?
chopin, kelinci temen baikku di tempat kkn-nya di pedalaman probolinggo sana, mati. katanya : "sepertinya aku engga pernah mencintai sesuatu dengan benar."
aku lagi dengerin marcel, firasat. aku kemaren sempet discuss ma kakakku, soal keputusan marcel dan dewi supernova, yang beragama hindu, dan segenap positioning rumah mereka yang beda ma manusia-manusia seprofesinya. dan aku masih tetap sepakad ma pakde gede prama, perjalanan manusia hanyalah perjalanan ke dalam dirinya sendiri.
"the only journey is the journey within."
Yayaya..manusia, terus berputar, beredar, menari setiap detik.
semua menuju-Nya.
[] how 'bout u?
Thursday, 9 August 2007
Banyak Cerita
Uffh..engga tau knapa, akhir-akhir ini banyak banged temen-temen lamaku, mendadak
contact me again, setelah sekian waktu lamanya berkutat dengan matahari, hujan, juga pelangi hidup mereka. Ada yang lagi suntuk dengan rutinitas menjemukan mereka, ada
temenku anak KedokteranHewan IPB, yang malah skarang asik dengan proyek Community Development di Maluku sana. Ada juga temenku di Jakarta yang bakal mengawali samudera pernikahan, besok Sabtu 11 Agustus ini.
Hmm..alun-alun Banjarnegara lagi rame, biasa menjelang tujuhbelasan ada pasar malem. Wuih, tiap ba'da Ashar, sampe agak malem, sepetak rumput hijau (yang udah mulai banyak berkurang hijaunya), di pusat kotaku itu, akan dipenuhi dengan tumpah-ruah manusia berbagai usia. Ada sepupuku, sejoli yang dikaruniai sepasang anak kembar; Nafla dan Naura, ada pula anak-anak muda, juga orang-orang tua.
Oia, ada kabar gembira ne, Kecamatan Wanadadi (tempat ibuku bekerja),
dapet nominasi sebagai Kecamatan unggulan bidang Kesehatan dan Pendidikan. Walo ada euphoria menyebar, ini karna suaminya Bu Camat, termasuk Tim Penilai Kesehatan. Tapi sportivitas pasti dijunjung tinggi. Sure. Lalu, beberapa kali aku juga nemenin Ibuku
journey 2d'village. Jadi inget Sosiologi Pedesaan ...
How 'bout me?
Yah, aku sendiri punya banyak cerita tentangku. To be continued ok!
[] Hari ini ayahku genap 54 thn! Thx God, give me a Great Father like u.. :) Luv u Dad!
contact me again, setelah sekian waktu lamanya berkutat dengan matahari, hujan, juga pelangi hidup mereka. Ada yang lagi suntuk dengan rutinitas menjemukan mereka, ada
temenku anak KedokteranHewan IPB, yang malah skarang asik dengan proyek Community Development di Maluku sana. Ada juga temenku di Jakarta yang bakal mengawali samudera pernikahan, besok Sabtu 11 Agustus ini.
Hmm..alun-alun Banjarnegara lagi rame, biasa menjelang tujuhbelasan ada pasar malem. Wuih, tiap ba'da Ashar, sampe agak malem, sepetak rumput hijau (yang udah mulai banyak berkurang hijaunya), di pusat kotaku itu, akan dipenuhi dengan tumpah-ruah manusia berbagai usia. Ada sepupuku, sejoli yang dikaruniai sepasang anak kembar; Nafla dan Naura, ada pula anak-anak muda, juga orang-orang tua.
Oia, ada kabar gembira ne, Kecamatan Wanadadi (tempat ibuku bekerja),
dapet nominasi sebagai Kecamatan unggulan bidang Kesehatan dan Pendidikan. Walo ada euphoria menyebar, ini karna suaminya Bu Camat, termasuk Tim Penilai Kesehatan. Tapi sportivitas pasti dijunjung tinggi. Sure. Lalu, beberapa kali aku juga nemenin Ibuku
journey 2d'village. Jadi inget Sosiologi Pedesaan ...
How 'bout me?
Yah, aku sendiri punya banyak cerita tentangku. To be continued ok!
[] Hari ini ayahku genap 54 thn! Thx God, give me a Great Father like u.. :) Luv u Dad!
Saturday, 21 July 2007
Saya Orang Desa
“CERITA dari BANJARNEGARA”
(tugas Industrialisasi Dunia Ketiga)
______________________________oleh : mia zuhara (NIM. 2oo51)
Ketika saya bertanya kepada seorang karib, “Apa yang kau bayangkan ketika mendengar ‘Industrialisasi Desa’?” Maka iapun menjawab enteng; “Ada sebuah pabrik berdiri di desa.”
Saya orang desa. Ibu dan Ayah sayapun orang desa. Namun jangan dibayangkan desa yang dimaksud adalah identik dengan kompleks persawahan hijau, kicau burung merdu, kerbau mandi di sungai, memasak di pawon dengan kayu bakar, dan seterusnya, dan seterusnya. Bukan, bukan seperti itu.
Entahlah. Mungkin desa saya ini, kini tengah menggeliat untuk lebih bernuansa “kota”. Mungkin juga definisi “desa” yang sudah bergeser. Mungkin sawah-sawah itu memang telah beralih fungsi menjadi kompleks perumahan “Limbangan Baru” atau kolam renang “Seruling Mas.” Atau mungkin karena letak rumah saya yang persis di pusat kabupaten, sehingga tiada lagi pemandangan asli pedesaan di sana. Apapun, berbagai kemungkinan itu tetaplah menjadi kemungkinan. Namun yang pasti, sekarang udara Banjarnegara penuh dengan asap angkutan kota-biru muda-jalur A,B,C,atau D itu.
Kampung tempat saya tinggal bernama Kauman. Tepatnya Kauman nomer 40. Beberapa menyatakan bahwa “Kauman” adalah kependekan dari “Kaum Beriman.” Sebuah motivasi, mungkin. Kampung Kauman terletak persis di sebelah barat Alun-Alun Kota; sebuah tempat yang biasa digunakan Bapak Bupati beserta kru PEMDA (Pemerintah Daerah) dan anak-anak sekolah untuk melakukan Upacara Bendera tiap tanggal 17 Agustus, atau sebagai tempat Pasar Rakyat pada saat-saat tertentu. Lalu, di sebelah timur Alun-Alun, berdiri sebuah Pasar Kota dan kantor PEMDA nan megah. Pendopo Kabupaten ada di utara Alun-Alun, tempat bersemayamnya Bapak Bupati Djasri. Kemudian di selatan Alun-Alun ada RUTAN (Rumah Tahanan), persis di sebelah kiri bangunan Gedung BRI berwarna abu-abu yang tinggi menjulang. Sekitar 20 kecamatan melingkupi Kabupaten Banjarnegara; desa tempat saya berasal.
Banjarnegara punya cerita. Objek Wisata Dieng Plateau, Kebun Binatang Seruling Mas, serta Waduk Panglima Besar Jenderal Soedirman. Ada pula makanan khas Banjarnegara; Es Dawet Ayu dan Buntil (sejenis sayur yang digulung dan dikukus), serta Industri Keramik Klampok dan Industri Makanan Kecil di Kecamatan Susukan; beberapa sentra industri kecil di Banjarnegara yang kini tengah berbenah.
Selama hampir tiga tahun ini saya kuliah di Sosiologi UGM, dan ketika kemudian ada tugas untuk membuat dua lembar tulisan tentang Industrialisasi Desa, maka fantasi saya langsung melayang pada tanah tumpah darah : Banjarnegara. Terbayang sebuah kota mungil yang kini tengah hiruk-pikuk dengan isu PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah) akhir tahun 2006 ini. Terbayang “Dieng Swalayan” 3 lantai dan “IndoGrosir” yang baru beberapa bulan berdiri, namun telah mendapat tempat tersendiri dalam hati mayoritas orang Banjarnegara. Terbayang Bioskop Rakyat yang gulung tikar, dikarenakan hampir tiap rumah telah memiliki VCD Player. Terbayang pula beberapa tetangga saya yang terbawa arus; mengadu nasib ke Jakarta.
Kemudian, saya membaca tulisan Mas Arie Sujito tentang Industrialisasi Desa. Berikut kutipannya;
Pengembangan Industrialisasi Desa ke depan yang perlu dipromosikan bercirikan di antaranya;
1) Berbasis pada sumber daya lokal
2) Mendasarkan pada partisipasi warga
3) Berbasis pada karya dan bukan padat modal
4) Community and state controlled
5) Environment sensitive (industri dengan wawasan lingkungan)
6) Sustainaible (keberlanjutan)
Lalu saya membayangkan. Bagaimana bentuk fisik maupun kondisi sosial Banjarnegara 5, 10, 15, 20, bahkan 100 tahun ke depan? Mungkin nanti, akan saya usulkan kepada Bapak Bupati yang baru untuk membangun Banjarnegara dengan konsep 6 ciri Industrialisasi Desa versi Mas Arie Sujito tadi.
Terakhir, apakah tulisan ini bisa dirasakan sebagai “Deskripsi Industrialisasi di Banjarnegara?”
Semoga saja. [ ]
(tugas Industrialisasi Dunia Ketiga)
______________________________oleh : mia zuhara (NIM. 2oo51)
Ketika saya bertanya kepada seorang karib, “Apa yang kau bayangkan ketika mendengar ‘Industrialisasi Desa’?” Maka iapun menjawab enteng; “Ada sebuah pabrik berdiri di desa.”
Saya orang desa. Ibu dan Ayah sayapun orang desa. Namun jangan dibayangkan desa yang dimaksud adalah identik dengan kompleks persawahan hijau, kicau burung merdu, kerbau mandi di sungai, memasak di pawon dengan kayu bakar, dan seterusnya, dan seterusnya. Bukan, bukan seperti itu.
Entahlah. Mungkin desa saya ini, kini tengah menggeliat untuk lebih bernuansa “kota”. Mungkin juga definisi “desa” yang sudah bergeser. Mungkin sawah-sawah itu memang telah beralih fungsi menjadi kompleks perumahan “Limbangan Baru” atau kolam renang “Seruling Mas.” Atau mungkin karena letak rumah saya yang persis di pusat kabupaten, sehingga tiada lagi pemandangan asli pedesaan di sana. Apapun, berbagai kemungkinan itu tetaplah menjadi kemungkinan. Namun yang pasti, sekarang udara Banjarnegara penuh dengan asap angkutan kota-biru muda-jalur A,B,C,atau D itu.
Kampung tempat saya tinggal bernama Kauman. Tepatnya Kauman nomer 40. Beberapa menyatakan bahwa “Kauman” adalah kependekan dari “Kaum Beriman.” Sebuah motivasi, mungkin. Kampung Kauman terletak persis di sebelah barat Alun-Alun Kota; sebuah tempat yang biasa digunakan Bapak Bupati beserta kru PEMDA (Pemerintah Daerah) dan anak-anak sekolah untuk melakukan Upacara Bendera tiap tanggal 17 Agustus, atau sebagai tempat Pasar Rakyat pada saat-saat tertentu. Lalu, di sebelah timur Alun-Alun, berdiri sebuah Pasar Kota dan kantor PEMDA nan megah. Pendopo Kabupaten ada di utara Alun-Alun, tempat bersemayamnya Bapak Bupati Djasri. Kemudian di selatan Alun-Alun ada RUTAN (Rumah Tahanan), persis di sebelah kiri bangunan Gedung BRI berwarna abu-abu yang tinggi menjulang. Sekitar 20 kecamatan melingkupi Kabupaten Banjarnegara; desa tempat saya berasal.
Banjarnegara punya cerita. Objek Wisata Dieng Plateau, Kebun Binatang Seruling Mas, serta Waduk Panglima Besar Jenderal Soedirman. Ada pula makanan khas Banjarnegara; Es Dawet Ayu dan Buntil (sejenis sayur yang digulung dan dikukus), serta Industri Keramik Klampok dan Industri Makanan Kecil di Kecamatan Susukan; beberapa sentra industri kecil di Banjarnegara yang kini tengah berbenah.
Selama hampir tiga tahun ini saya kuliah di Sosiologi UGM, dan ketika kemudian ada tugas untuk membuat dua lembar tulisan tentang Industrialisasi Desa, maka fantasi saya langsung melayang pada tanah tumpah darah : Banjarnegara. Terbayang sebuah kota mungil yang kini tengah hiruk-pikuk dengan isu PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah) akhir tahun 2006 ini. Terbayang “Dieng Swalayan” 3 lantai dan “IndoGrosir” yang baru beberapa bulan berdiri, namun telah mendapat tempat tersendiri dalam hati mayoritas orang Banjarnegara. Terbayang Bioskop Rakyat yang gulung tikar, dikarenakan hampir tiap rumah telah memiliki VCD Player. Terbayang pula beberapa tetangga saya yang terbawa arus; mengadu nasib ke Jakarta.
Kemudian, saya membaca tulisan Mas Arie Sujito tentang Industrialisasi Desa. Berikut kutipannya;
Pengembangan Industrialisasi Desa ke depan yang perlu dipromosikan bercirikan di antaranya;
1) Berbasis pada sumber daya lokal
2) Mendasarkan pada partisipasi warga
3) Berbasis pada karya dan bukan padat modal
4) Community and state controlled
5) Environment sensitive (industri dengan wawasan lingkungan)
6) Sustainaible (keberlanjutan)
Lalu saya membayangkan. Bagaimana bentuk fisik maupun kondisi sosial Banjarnegara 5, 10, 15, 20, bahkan 100 tahun ke depan? Mungkin nanti, akan saya usulkan kepada Bapak Bupati yang baru untuk membangun Banjarnegara dengan konsep 6 ciri Industrialisasi Desa versi Mas Arie Sujito tadi.
Terakhir, apakah tulisan ini bisa dirasakan sebagai “Deskripsi Industrialisasi di Banjarnegara?”
Semoga saja. [ ]
Aku Ingin Bersama Selamanya
Aku Ingin Bersama Selamanya*
Ketika tunas ini tumbuh
Serupa tubuh yang mengakar
Setiap nafas yang terhembus adalah kata
Angan, debur, dan emosi
Bersatu dalam jubah keterpautan
Tangan kita terikat
Lidah kita menyatu
Maka setiap apa terucap
Adalah sabda pandita ratu
Ah .. di luar itu pasir
Di luar itu debu
Hanya angin meniup saja
Lalu terbang hilang tak ada
Tapi kita tetap menari
Menari cuma kita yang tahu
Jiwa ini tandu, maka duduk saja
Maka, akan kita bawa semua ..
Karena kita .. adalah .. satu ..
*From AADC
Ketika tunas ini tumbuh
Serupa tubuh yang mengakar
Setiap nafas yang terhembus adalah kata
Angan, debur, dan emosi
Bersatu dalam jubah keterpautan
Tangan kita terikat
Lidah kita menyatu
Maka setiap apa terucap
Adalah sabda pandita ratu
Ah .. di luar itu pasir
Di luar itu debu
Hanya angin meniup saja
Lalu terbang hilang tak ada
Tapi kita tetap menari
Menari cuma kita yang tahu
Jiwa ini tandu, maka duduk saja
Maka, akan kita bawa semua ..
Karena kita .. adalah .. satu ..
*From AADC
Subscribe to:
Posts (Atom)