Monday 20 August 2007

Gola Gong

“... Aku bukan kaya, bukan. Aku cuma punya uang alakadarnya dan keberanian. Aku cuma menjalankan uang sebagaimana fungsinya sebagai alat penukar. Uang kalau cuma untuk disimpan buat apa? Aku bukan orang pinter, tapi aku berani. Dengan berani aku yakin bakal jadi pintar. Tapi orang pintar kalau tidak punya keberanian buat apa? Sebetulnya semua orang bisa melakukan ini. Cuma masalahnya, mau tidak orang itu melakukannya? Sederhana saja ‘kan.

Aku tidur-tiduran di sebuah taman. Jam 13.00. Aku kayuh lagi sepeda. Karena saking capek dan kesepiannya, aku ajak saja sepedaku ngobrol tentang berbagai hal. Lalu aku panggil sepedaku “Master”. Ya, dialah kini yang memiliki aku. Tanpa dia (Master), aku bukan apa-apa. Tujuanku sekarang langsung ke Malacca saja (80 km, cing!). Tapi baru saja 15 km aku tumbang. Kadangkala aku berpikir, betapa perkasanya Greg Lemond, yang melahap tanjakan di Tour de France. Tanjakan-tanjakan yang aku lalui bagi dia jelas bukan apa-apa.

Lantas aku punya resep : nikmati saja semuanya. Kalau panas, nikmatilah panas itu. Rasakan. Kalau tak tahan, ya berteduhlah. Kalau ada tanjakan, dakilah. Tak kuat, ya turun dan tuntunlah. Praktis ‘kan? ...”
Taken from : Perjalanan Asia, by Gola Gong (1993), page 4-5.

[] Inspiring words, hey?